Kamu Tidak Pernah Belajar Cara Mengatakan “Tidak” dengan Sehat
Banyak orang hanya tahu dua mode, menolak dengan kasar dan mengiyakan meski terpaksa.
Padahal ada cara atau pilihan ketiga, yaitu Asertif dan penuh hormat.
Contohnya,
“Saat ini aku tidak bisa membantu, tapi terima kasih sudah percaya.”
“Aku ingin bantu, tapi aku sedang fokus hal lain.”
“Jam kerja aku sudah selesai, kita lanjutkan besok ya.”
Bukan hanya apa yang kamu katakan tapi bagaimana kamu mengatakan membuat perbedaan besar.
Orang yang sulit membuat batas personal boundaries,
biasanya akan sering merasa, dirinya tidak penting dan kebutuhannya tidak menjadi prioritas,
hingga merasa suara pribadinya tidak berharga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini membuat boundaries terasa “tidak pantas” bagi mereka.
Namun dalam psikologi kesehatan mental, boundaries adalah bagian dari,
self-worth, self-respect, self-love, self-leadership.
Ketika kamu mulai menghargai dirimu, batas menjadi lebih mudah ditegakkan.
Membangun Personal Boundaries bukan tentang menolak orang lain, tapi menemukan dirimu kembali,
Menetapkan boundaries itu bukan soal keberanian, tapi soal pemahaman.
Ketika kamu mengerti pola psikologis yang menghalangi,
kamu mulai melihat bahwa selama ini kamu bukan “kurang tegas”, tetapi terlalu terbiasa menyangkal dirimu sendiri.
Membangun batas bukan tindakan menjauhkan diri dari orang,
melainkan menciptakan ruang agar kamu bisa hadir dengan penuh kualitas.
Jadi hari ini, izinkan dirimu berkata,
“Aku penting.”
“Aku berharga.”
“Aku berhak punya batas.”
Mulailah dari satu batas kecil hari ini.
Beri ruang bagi tenangmu.
Beri izin untuk hidup lebih sehat.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber





















