Ruanginspirasimu.com – Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirimi saya pesan panjang di tengah malam. Katanya, ia baru saja terbangun dengan sebuah ide bisnis yang terasa begitu cemerlang. Pikirannya melompat-lompat. Ia sudah membayangkan pelanggan, produk, bahkan warna logo yang akan ia pakai.
Tapi saat pagi tiba dan laptop terbuka, ia hanya terdiam. “Aku bingung mulai dari mana,” tulisnya.
Saya tersenyum membaca pesan itu. Bukannya meremehkan, tapi saya benar-benar paham perasaan itu.
Dulu saya juga sering mengalaminya.
Ide datang dengan semangat membara, tapi karena tidak ada peta yang jelas, semuanya buyar sebelum sempat dieksekusi.
Lalu saya ingat satu alat yang pernah membantu saya keluar dari kebingungan itu.
Alatnya sederhana. Tidak butuh software mahal atau keahlian khusus. Cuma selembar kertas dan sembilan kotak.
Namanya Business Model Canvas.
Tapi biar tidak terlalu kaku, mari kita definisikana atau sebut saja BMC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa Sebenarnya Business Model Canvas atau BMC Itu?
Saya pertama kali mendengar istilah ini dari seorang mentor yang usahanya sudah puluhan tahun berjalan.
Waktu itu saya datang dengan ide yang ambisius, penuh percaya diri.
Saya tunjukkan semua rencana besar saya. Ia hanya tersenyum.
Lalu ia mengambil kertas bekas di mejanya, menggambar sembilan kotak, dan berkata,
“Isi ini dulu. Kalau sembilan kotak ini nyambung, baru kita bicara soal modal.”
Saya agak kesal waktu itu.
Rasanya ide saya terlalu besar untuk dimasukkan ke sembilan kotak kecil.
Tapi saya coba.
Dan ternyata, dari situlah saya mulai paham betapa banyak hal yang selama ini saya lewatkan.
BMC itu seperti arsitek yang membuat sketsa sebelum membangun rumah.
Tidak perlu detail rumit.
Tapi dengan sketsa itu, kita bisa melihat apakah rumah yang ingin kita bangun benar-benar kokoh,
atau hanya angan-angan yang indah di atas kertas.
Sembilan kotak itu berisi beberapa hal kritis dan spesifik,
1. Siapa pelanggan kita?
Jangan pernah bilang “semua orang”. Itu bunuh diri bagi bisnis pemula.
2. Apa nilai yang kita tawarkan?
Kenapa orang harus memilih kita, bukan yang lain?
3. Lewat mana kita menjangkau mereka?
Apakah lewat media sosial seperti Instagram, WhatsApp, atau dari mulut ke mulut?
4. Bagaimana hubungan kita dengan pelanggan?
Apakah kita ingin dekat secara personal, atau lebih ke sistem otomatis?
5. Dari mana pemasukan datang?
Jual produk, langganan, atau komisi?
6. Apa saja sumber daya yang kita punya?
Jangan lihat yang tidak ada. Lihat dulu yang sudah ada di tangan.
7. Apa kegiatan utama yang harus kita lakukan setiap hari?
Fokus. Jangan sibuk dengan hal yang tidak berdampak.
8. Siapa saja mitra yang bisa kita ajak kerja sama?
Karena kita tidak harus sendirian.
9. Apa saja biaya yang harus kita keluarkan?
Catat semuanya, jangan ada yang disembunyikan.
Sembilan kotak ini terhubung satu sama lain.
Jika satu kotak berubah, kotak lainnya ikut menyesuaikan.
Itulah kenapa BMC begitu fleksibel.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















