Ruanginspirasimu.com — Bicara tentang Personal Boundaries, kita tidak lahir untuk menyenangkan semua orang, Tapi banyak dari kita diasuh untuk itu. Pernahkah kamu merasa ingin berkata “tidak”, tetapi mulutmu memilih mengatakan “iya”? Atau kamu tahu kapasitasmu sudah penuh, tetapi tetap menerima tugas tambahan agar orang lain tidak kecewa? Atau kamu sering merasa bersalah setelah menetapkan batas? Jika jawabanmu “iya”, kamu tidak sendirian.
Banyak orang dewasa mengalami kesulitan menetapkan personal boundaries,
bukan karena mereka lemah, tidak tegas, atau tidak tahu cara berkomunikasi.
Sebab utamanya jauh lebih dalam,
akar psikologis yang terbentuk sejak kecil.
Mari kita bahas dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Pola Asuh Masa Kecil (Inner Conditioning) Membentuk Cara Kita Menjaga Batas Personal Boundaries
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa anak menyerap pola relasi dari keluarganya.
Jika sejak kecil kamu diajarkan bahwa,
“kamu anak baik kalau nurut”
“kamu harus mengalah demi orang lain”
“jangan bikin orang repot”
“jangan mengecewakan orang tua”
Maka otakmu belajar bahwa nilai dirimu diukur oleh seberapa kamu bisa menyenangkan orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini membentuk pola dewasa yang disebut,
Biasa orang mengenalnya dengan istilah, People-Pleasing Behavior,
Sebuah mekanisme bertahan hidup (coping mechanism) yang membuat seseorang merasa aman,
hanya jika orang lain puas, tenang, atau tidak marah.
Maka saat kamu mencoba membuat batas personal boundariesmu,
kamu merasa bersalah , kamu merasa egois, kamu merasa takut ditolak , kamu takut dicap tidak sopan,
kamu merasa kamu “berhutang” pada orang lain
Ini bukan salahmu.
Ini pola lama yang sedang meminta disembuhkan.
Ketakutan Psikologis Akan Penolakan (Fear of Rejection)
Manusia adalah makhluk sosial.
Kita butuh diterima dan merasa aman di dalam kelompok.
Masalahnya,
sebagian dari kita dibesarkan dengan pola, hukuman ketika menolak , komentar sinis ketika berbeda,
kemarahan ketika punya pendapat, hingga silent treatment ketika membuat batas.
Akibatnya,
otak emosional (amygdala) mengasosiasikan batas pribadi sebagai ancaman sosial.
Maka, ketika kamu berkata “tidak”,
Jantungmu akan berdebar, muncul Pikiran takut disalahkan,
Muncul rasa khawatir akan membuat hubungan menjadi rusak,
Hingga membuat Kamu sibuk membayangkan skenario terburuknya.
Padahal secara logika kamu tahu batas itu perlu.
Yang bereaksi adalah “versi kecil dirimu” yang dulu dihukum karena punya suara.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






















