Ruanginspirasimu.com — Saat Hidup terasa penuh, kita butuh batas atau personal boundaries, bukan lebih banyak kekuatan. Ada fase dalam hidup ketika kamu merasa sudah berusaha keras, tapi tetap saja lelah. Kamu ingin fokus, tapi pikiran penuh. Kamu ingin tenang, tapi dunia seolah meminta terlalu banyak.
Di titik itulah kamu mulai bertanya,
“Apa aku salah menjaga diriku? Atau orang lain yang salah memahami batasanku?”
Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak.”
Banyak dari kita tidak pernah diajari bagaimana menjaga batas diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita tumbuh dalam budaya “nggak enakan”, “harus bisa semua”, dan “jangan egois”.
Tidak heran jika topik personal boundaries menjadi salah satu pencarian terbesar di internet.
Mari kita bahas 3 pertanyaan terbanyak yang orang cari dan jawab dengan pendekatan psikologi yang mudah dipahami.
Bagaimana cara menetapkan personal boundaries tanpa merasa bersalah?
Rasa bersalah adalah alasan nomor satu mengapa seseorang tidak bisa menjaga batas.
Dalam Psikologi menjelaskan bahwa sebenarnya rasa bersalah itu bukan salahmu, karena itu bisa jadi merupakan hasil dari pola asuh dan didik kepadamu,
Jika saat kecil kamu,
sering diminta “mengalah demi orang lain”,
dimarahi saat berkata “tidak”,
dipuji ketika kamu patuh dan menyenangkan,
ditekan untuk tidak mengecewakan keluarga,
Maka otakmu akan memiliki emotional conditioning bahwa,
menjaga orang lain = lebih penting daripada menjaga diri sendiri.
Psikologi menyebutnya fawn response, kecenderungan menyenangkan orang lain untuk menghindari konflik.
Jadi ketika kamu berkata “tidak”, otakmu memicu alarm rasa bersalah.
Padahal kamu tidak salah, hanya tidak terbiasa menjaga diri.
3 Teknik Psikologi untuk Mengurangi Rasa Bersalah
Pertama bisa kamu lakukan dengan teknik Cognitive Reframing,
Yaitu cobalah untuk merubah narasi batinmu.
Misalkan Dari situasi atau narasi awal, “Kalau aku menolak, aku jahat.”
Menjadi narasi ketika “Menjaga diriku, itu adalah bentuk tanggung jawab.”
Selanjutnya adalah dengan melakukan Emotional Permission,
Kamu bisa mulai dengan memberikan “izin batin” untuk istirahat dan berkata “tidak”.
Bilanglah kepada diri sendiri, bahwa “Aku berhak punya ruang.”
Yang terakhir adalah dengan Asertivitas (bukan agresivitas),
Contoh kalimat boundaries yang elegan,
“Sayangnya aku tidak bisa membantu hari ini.”
“Aku bisa bantu, tapi tidak sekarang.”
“Aku sedang fokus hal lain.”
Tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
Kamu hanya perlu jujur dan tegas.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















