Pengelolaan Sampah Dimulai dari Hulu

Pada kesempatan tersebut, Direktur Program Bestari Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi yang diwakili oleh Dr. Aris Winarna, S.E., M.M, menekankan pentingnya mengubah cara pandang perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi pengabdian dan penerapan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat.
Ia mengibaratkan perguruan tinggi pada masa lalu sebagai “menara gading”, sementara masyarakat sebenarnya sudah memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang telah teruji dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Dr. Aris, peneliti tidak boleh berhenti di laboratorium. Pengetahuan ilmiah perlu bertemu dengan pengalaman masyarakat sehingga menghasilkan inovasi yang relevan dan dapat diterapkan.
Dalam konteks Caturharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, pengelolaan sampah dikembangkan dengan memperhatikan filosofi masyarakat setempat yang telah dikenal secara luas melalui pendekatan kearifan lokal yang disebut “Olah Sampah Coro Simbah”. Konsep ini mengadopsi kebiasaan nenek moyang terdahulu dalam mengolah sampah organik secara mandiri. Warga membuat jugangan (lubang di dalam tanah) di pekarangan rumah masing-masing untuk mengembalikan sampah organik langsung ke alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah yang efektif harus dimulai sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat dikelola melalui jogangan, sementara sampah yang memiliki nilai ekonomi dipilah untuk dijual. Adapun residu yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian menjadi bagian yang dikelola melalui teknologi incinerator sebagaimana yang telah dilakukan oleh masyarakat Caturharjo. “Sekali lagi, inti pengelolaan sampah adalah di hulunya,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai lebih strategis dibandingkan hanya memindahkan persoalan sampah dari satu tempat ke tempat lain.
Dr. Aris juga menyinggung persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi tantangan besar, termasuk persoalan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan sistemik, terutama dengan memperkuat pengelolaan sejak dari sumbernya.
Penulis : Humas LPPM UAD
Editor : Inspirator
Sumber Berita : Tim LPPM UAD
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





















