Bagaimana agar anak tidak tumbuh menjadi egois saat belajar boundaries?
Ini sebenarnya kekhawatiran yang klasik.
Padahal psikologi menjelaskan hal yang kebalikannya,
Anak yang tidak punya batas yang jelas justru cenderung lebih egois,
lebih defensif, dan lebih sulit mengontrol emosi.
Kenapa?
Karena anak tidak terbiasa memilah,
mana kebutuhan diri dan mana kebutuhan orang lain.
Apa yang kamu harus lakukan sebagai orang tua?
Coba mulai mengajarkan keseimbangan,
antara Self-respect atau menjaga diri dengan Respect to others atau menghormati orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Boundaries sehat tidak membuat anak keras kepala.
Boundaries sehat membuat anak tegas tapi tetap empatik.
Kenapa anak saya sulit berkata ‘tidak’ kepada teman?
Seringkali, sebagai orang tua,
kita mendapati anak kita seolah terlalu baik kepada temannya,
selalu nurut apapun yang temannya mau,
seperti tidak memiliki inisiatif sendiri,
bahkan,
terkadang muncul kekhawatiran,
anak kita bisa menjadi obyek bullying temannya.
Dalam psikologi emosi, hal seperti ini biasanya,
berasal dari kondisi takut untuk ditolak, selalu ingin diterima,
hingga tidak ingin membuat konflik dan mendapatkan pengalaman kurang baik di masa lalu ketika pernah disepelekan,
sehingga menjadi kurang percaya diri.
Trus, apa yang harus kamu lakukan sebagai orang tua?
Lakukan cara sederhana ini,
mulai latih anak dengan roleplay,
“Temanmu meminjam pensilmu. Kamu boleh bilang apa?”
“Teman mengajak bermain saat kamu lelah. Apa yang kamu katakan?”
Bisa juga dengan memberikan contoh kalimat,
“Aku tidak mau sekarang.”
“Aku lelah, kita main besok.”
“Aku ingin istirahat dulu.”
Sehingga anak menjadi lebih mudah menerapkannya,
Semakin sering berlatih, semakin kuat boundaries-nya.
Bagaimana jika ada anggota keluarga besar melanggar batasan Personal Boundaries anak?
Hal seperti ini memang menjadi persoalan besar di budaya kita.
Contoh yang sering terjadi dan dianggap umum di kalangan keluarga,
memaksa anak menerima perlakuan fisik, seperti memaksa anak dicium, dipeluk dan lain-lain,
atau dengan alasan sopan santun, secara tidak sadar memaksa anak untuk rela atau mau berbagi atau tunduk dari perintah orang yang lebih tua dari keluarga besarnya.
Psikologi anak mengajarkan bahwa body autonomy,
adalah pondasi perlindungan anak terhadap kekerasan fisik dan seksual.
Nah, jika kondisi itu muncul atau terjadi di anakmu,
Bagaimana Solusinya?
Sebagai Orang tua,
kamu harus berani menjadi “tembok pelindung”.
Berlatihlah untuk konsisten bisa menyampaikan atau mengatakan dengan lembut kepada anggota keluarga besar,
“Dia sedang belajar mendengarkan tubuhnya.”
“Kalau dia tidak nyaman dipeluk, kita hormati ya.”
“Dia pilih bersalaman saja.”
Karena ini bukan tidak sopan,
namun lebih kepada menjaga keselamatan psikologis anak.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





















