Di wilayah Caturharjo, terdapat 14 Rumah Kumpul Sampah (RKS) yang tersebar di 14 kelurahan. Pengelolaan sampah di wilayah ini menerapkan metode olah limbah dengan pendekatan alam ke alam dan pabrik ke pabrik melalui proses daur ulang. Sampah organik yang dapat dijadikan kompos dibuang ke dalam jogangan, sementara sampah yang memiliki nilai jual dipisahkan ke dalam berbagai kategori seperti botol plastik, karton, dan kertas, kemudian dijual untuk mendukung keberlanjutan program.
Namun demikian, penanganan sampah residu masih menjadi tantangan utama yang belum sepenuhnya terselesaikan. Saat ini, sampah residu hanya dapat dikirimkan ke TPS3R sebagai solusi sementara.

Di sisi lain, program unggulan yang tengah berjalan, yaitu Sedekah Sampah, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Program ini berhasil memberikan santunan kepada warga masyarakat serta para guru di lingkungan setempat.
Lebih jauh lagi, hasil dari program ini bahkan telah digunakan untuk membantu memperbaiki rumah warga yang membutuhkan bantuan, membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang baik dapat memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
“Permasalahan sampah akan selalu ada, tetapi jika dikelola dengan baik dapat menjadi sumber manfaat dan kemandirian masyarakat,” ungkap Bapak Ngadiono selaku pimpinan Padukuhan Gluntung Kidul.
Dia menjelaskan bahwa Rumah Kumpul Sampah di Gluntung Kidul, sudah berjalan selama 4 tahun.
Beberapa manfaat yang telah diberikan adalah santunan kepada Lansia, Bingkisan kepada para guru TK, dan beberapa pendanaan untuk aksi sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalurahan Caturharjo sudah menunjukkan perkembangan signifikan dalam pembangunan berbasis masyarakat dan lingkungan.
Dari sebelumnya berada pada peringkat bawah dalam evaluasi tingkat kalurahan di Kabupaten Bantul, kini berhasil meningkat menjadi salah satu kalurahan dengan perkembangan terbaik.
Sementara itu, Bapak Prof. Anton Yudhana, Ph.D selaku ketua tim penelitian dan pimpinan LPPM UAD menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Pendampingan universitas tidak hanya berhenti pada transfer teknologi, tetapi juga membangun perubahan pola pikir masyarakat agar mampu menciptakan kemandirian dalam pengelolaan lingkungan. Dalam penelitian ini akan dikembangkan fasilitas insinerator agar sampah residu dapat ditangani secara mandiri, sehingga permasalahan tersebut dapat ditangani secara lebih tuntas dan efisien tanpa bergantung pada pihak luar,” jelasnya.
Penulis : Humas LPPM UAD
Editor : Inspirator
Sumber Berita : Tim LPPM UAD
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















