Sebuah Cerita, Cerita Rudi, Penjual Kopi Keliling
Biarkan saya ceritakan satu contoh yang sering kita jumpai di dunia nyata.
Sebut saja Rudi.
Dia tidak lulus kuliah, tidak punya pengalaman kerja di perusahaan besar.
Tapi sejak kecil, ia sudah biasa jualan.
Pagi-pagi ikut orang tua ke pasar, sorenya jualan gorengan keliling kompleks.
Suatu hari,
Rudi bilang ingin buka usaha kopi keliling.
Masalahnya, modalnya sangat minim.
Uang tabungan hanya cukup untuk membeli mesin kopi seken dan beberapa kilogram biji kopi.
Saya ajak ia duduk di teras rumah.
Saya ambil kertas bekas dan bolpoin.
Lalu saya ajak ia mengisi sembilan kotak itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya tanya, “Rudi, pelangganmu siapa?”
Dia berpikir sejenak. Lalu menjawab, “Karyawan kantoran.”
“Kenapa karyawan kantoran?” Tanya saya,
“Karena mereka sibuk, males keluar gedung kalau mau beli kopi.
Kalau saya yang datang ke mereka, mereka pasti seneng.” Jawab Rudi.
Saya mengangguk. Itu sudah jadi fondasi yang kuat.
Kita tulis segmen pelanggannya, yaitu karyawan kantoran di kawasan bisnis.
Lalu nilai proposisinya, kopi enak, harga bersahabat, diantar ke meja kerja.
Saluran distribusi? Rudi hanya punya satu nomor WhatsApp.
Ternyata itu cukup. Pelanggan tinggal chat, Rudi antar.
Bagaimana Hubungan dengan pelanggan dibuat sederhana?
Menggunakan sistem poin. Beli sepuluh, gratis satu.
Pelanggan jadi merasa dihargai.
Trus darimana Pendapatan atau Revenue Streamnya?
Dari kopi dan camilan kecil seperti pisang goreng. Nanti kalau sudah besar, bisa tambah menu.
Sedangkan sumber daya yang Rudi miliki saat itu, mesin kopi seken, motor butut,
dan skill meracik kopi yang ia pelajari dari YouTube.
Tidak banyak, tapi cukup untuk memulai.
Berikutnya beberapa aktivitas utama yang harus ia lakukan setiap hari,
bangun jam 4 pagi, menyeduh kopi, lalu berkeliling ke kantor-kantor langganan.
Beberapa Mitra yang bisa ia ajak kerja sama antara lain pemasok biji kopi lokal yang ia kenal,
dan pabrik cup ramah lingkungan yang ternyata mau memberikan harga khusus untuk pembeli pertama.
Biaya ia catat dengan rapi di buku kecil.
Kopi, susu, gula, cup, bensin, bahkan uang rokok sekalipun.
Saya ingat Rudi tertawa waktu itu, “Rokok juga masuk, Mas?”
“Masuk,” kata saya. “Semua yang bikin usahamu jalan, catet.”
Tiga bulan kemudian, Rudi sudah punya dua mesin kopi.
Ia merekrut satu karyawan untuk membantu menyeduh dan mengantar.
Pelanggan tetapnya sudah mencapai delapan kantor.
Rudi tidak kaya raya.
Tapi usahanya hidup.
Dan yang lebih penting, ia punya peta untuk berkembang.
Mengapa Saya Suka Alat yang Sederhana Ini?
Saya bukan orang yang suka teori rumit. Kalau bisa sederhana, kenapa dipersulit?
BMC mengajarkan saya satu hal sederhana,
bisnis itu soal koneksi antar bagian.
Pelanggan mempengaruhi nilai yang kita tawarkan.
Nilai yang kita tawarkan mempengaruhi saluran yang kita pilih. Saluran mempengaruhi biaya. Dan seterusnya.
Sembilan kotak itu seperti puzzle.
Jika semua potongan nyambung, cerita bisnis kita jadi masuk akal.
Jika ada yang janggal, kita bisa tahu persis di mana letak masalahnya.
Beberapa pebisnis yang saya kenal bahkan rutin merevisi BMC mereka setiap bulan.
Mereka bilang, pasar bergerak terus.
Pelanggan bisa berubah selera kapan saja.
Kalau bisnis kita tidak ikut bergerak, kita akan tertinggal.
Tiga Jebakan yang Sering Saya Lihat
Tidak semua yang mencoba BMC langsung berhasil.
Saya sendiri dulu juga sempat terjebak di beberapa titik.
Pertama, perfeksionisme.
Ada orang yang ingin mengisi sembilan kotak dengan sempurna sebelum memulai.
Mereka takut salah. Akibatnya, kertas itu tetap kosong, dan ide bisnisnya mati sebelum sempat lahir.
Padahal, tujuan BMC bukan untuk membuat dokumen yang indah.
Tujuan BMC adalah untuk mulai bergerak.
Isi sebisanya, lalu perbaiki sambil jalan.
Kedua, enggan berubah.
Kebalikannya, ada juga yang setelah selesai mengisi,
mereka menganggap BMC sebagai dokumen suci yang tidak boleh diganggu.
Padahal bisnis itu dinamis.
Apa yang bekerja bulan lalu, belum tentu bekerja bulan ini.
Seorang pebisnis kadang-kadang untuk terus bisa fokus bahkan menempel BMC-nya di dinding kantor.
Setiap bulan, ia duduk bersama tim, melihat sembilan kotak itu,
lalu bertanya, “Masih relevan?”
Kalau tidak, mereka hapus dan tulis ulang.
Ketiga, membuat sendirian.
Terkadang, kita terlalu percaya diri,
akhirnya mencoba membuat BMC bisnis kita sendirian.
Mungkin akan terasa lebih mudah dan cepat,
Hasilnya rapi.
Tapi saat saya diskusikan dengan teman, ada banyak sudut pandang yang saya lewatkan.
Seorang teman melihat kelemahan di bagian mitra yang tidak saya sadari.
Yang lain punya ide untuk aktivitas utama yang lebih efektif.
Sejak saat itu, saya selalu mengajak orang lain saat menyusun BMC.
Minimal dua atau tiga orang.
Hasilnya selalu lebih kaya.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















