Parenting Positif, Mengapa Hukuman Fisik Justru Menghambat Anak

Rabu, 8 Oktober 2025 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Parenting Positif, Hukuman Fisik Bisa Menghambat Anak

Parenting Positif, Hukuman Fisik Bisa Menghambat Anak

Ruanginspirasimu.comHukuman fisik mungkin tampak efektif dalam jangka pendek. Anak berhenti menangis, menuruti perintah, atau tampak lebih patuh. Namun di dalam hati kecilnya, ada sesuatu yang retak  yaitu rasa aman. Anak mulai belajar bahwa kasih sayang bisa berubah menjadi ancaman. Mereka menuruti bukan karena memahami, tapi karena takut. Dan ketakutan bukanlah pondasi yang sehat untuk tumbuh kembang seorang manusia.

Pernahkah kamu merasa frustrasi ketika anak sulit diatur, meskipun sudah diingatkan berkali-kali?
Dalam momen itu,
sebagian orang tua mungkin tergoda untuk menggunakan hukuman fisik, entah berupa cubitan,
bentakan, atau pukulan kecil yang dianggap “tidak seberapa”.

Tapi di balik tindakan itu, sering kali tersembunyi dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
Bukan hanya pada tubuh anak, tetapi pada cara mereka memandang diri sendiri, orang tua, dan dunia di sekitarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Hukuman Fisik Justru Menghambat Anak

Dalam dunia psikologi perkembangan anak, banyak penelitian menunjukkan,
bahwa hukuman fisik justru dapat menurunkan kepercayaan diri dan menghambat kemampuan anak mengelola emosi.

Anak yang sering mendapat kekerasan, sekecil apa pun bentuknya, akan cenderung merasa tidak cukup baik.
Mereka belajar menekan perasaan, bukan memahaminya.

Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengekspresikan diri,
atau justru meledak tanpa kendali saat dewasa.

Parenting positif tidak berarti membiarkan anak melakukan apa pun yang mereka mau.
Sebaliknya, parenting positif mengajak orang tua untuk menjadi teladan dan pemandu, bukan penguasa.

Disiplin tetap penting, tapi disiplin bukan berarti menakuti.
Disiplin adalah tentang mengajarkan tanggung jawab dengan empati, bukan menanamkan ketakutan dengan ancaman. Seorang anak yang dibesarkan dengan pemahaman,
akan lebih mudah belajar memperbaiki diri ketimbang anak yang hanya belajar menghindari hukuman.

BACA JUGA  Lirik Lagu Memang Kenapa Bila Aku Perempuan, Simfoni Semangat Kartini untuk Perempuan Indonesia

Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber

Berita Terkait

Hormon Kebahagiaan, Yang Mengatur Mood, Motivasi, dan Ikatan Sosial Kamu
Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super
Berita Pers – FILKOM UB Berkolaborasi dengan PKBM PPI Taiwan dan UNIMIG Taiwan, Tingkatkan Literasi AI bagi PMI dengan Dukungan KDEI Taipei
Emotional Climate dalam Organisasi, Cara Emosi Kolektif Mempengaruhi Kinerja Tim
Kecerdasan Emosional dalam Organisasi
Emotional Intelligence vs Emotional Fitness, Mana yang Lebih Penting untuk Kariermu?
Mengapa Emotional Fitness Menjadi Keterampilan Paling Dicari di Dunia Kerja Modern
Emotional Fitness Kunci Kesuksesan di Dunia Kerja Modern

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:15 WIB

Hormon Kebahagiaan, Yang Mengatur Mood, Motivasi, dan Ikatan Sosial Kamu

Senin, 5 Januari 2026 - 14:14 WIB

Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super

Rabu, 10 Desember 2025 - 15:15 WIB

Berita Pers – FILKOM UB Berkolaborasi dengan PKBM PPI Taiwan dan UNIMIG Taiwan, Tingkatkan Literasi AI bagi PMI dengan Dukungan KDEI Taipei

Senin, 8 Desember 2025 - 18:18 WIB

Emotional Climate dalam Organisasi, Cara Emosi Kolektif Mempengaruhi Kinerja Tim

Jumat, 5 Desember 2025 - 10:10 WIB

Kecerdasan Emosional dalam Organisasi

Berita Terbaru

Tubuh Manusia adalah Robot Super Biologis

Pendidikan

Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super

Senin, 5 Jan 2026 - 14:14 WIB

Kecerdasan Emosi dalam Kepemimpinan Dan Organisasi

Pengembangan Diri

Kecerdasan Emosional dalam Organisasi

Jumat, 5 Des 2025 - 10:10 WIB