Emosi dan Overthinking, Cara Psikologis Hidup Lebih Produktif

Selasa, 23 September 2025 - 18:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emosi dan Psikologi

Emosi dan Psikologi

Psikologi Emosi, Mengapa Self-Awareness Itu Penting

Salah satu cara paling efektif untuk memutus lingkaran ini adalah dengan meningkatkan self-awareness atau kesadaran diri. Daniel Goleman dalam konsep emotional intelligence menekankan bahwa mengenali emosi adalah langkah pertama untuk bisa mengelolanya.

Tanpa kesadaran diri, kita hanya akan menjadi korban dari gelombang pikiran yang datang silih berganti.
Self-awareness berarti mampu memberi nama pada perasaan yang muncul, menyadari pemicunya, dan memilih cara merespons.

Misalnya, ketika merasa cemas karena deadline, kita bisa berhenti sejenak, bernapas dalam-dalam, lalu menyusun prioritas. Kesadaran sederhana ini sudah cukup untuk mengurangi dampak negatif overthinking.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam dunia psikologi klinis,
cognitive behavioral therapy (CBT) sering digunakan untuk membantu orang mengatasi pikiran berlebihan.

Intinya adalah mengubah self-talk, percakapan batin kita sendiri.
Jika biasanya kita berkata, “Aku pasti gagal,”
CBT melatih kita menggantinya dengan, “Aku akan berusaha sebaik mungkin dan belajar dari proses ini.”

Perubahan kecil dalam bahasa bisa berdampak besar pada emosi dan tindakan.
Self-talk positif membantu otak membangun pola baru yang lebih sehat.
Seiring waktu, pola ini bisa menjadi kebiasaan yang memperkuat kepercayaan diri,
sekaligus mengurangi kecenderungan overthinking.

Mindfulness dan Gratitude, Dua Latihan Psikologi untuk Menata Emosi

Selain CBT, ada dua latihan psikologis yang terbukti efektif dalam mengelola emosi yaitu mindfulness dan gratitude. Mindfulness, menurut Jon Kabat-Zinn, adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada momen kini.

Saat kita berlatih mindfulness,
pikiran tidak lagi berkelana ke masa lalu atau masa depan yang sering memicu overthinking.

Sementara itu,
rasa syukur atau gratitude menurut penelitian psikologi positif dapat meningkatkan kesehatan mental dan kebahagiaan.
Dengan melatih diri untuk menemukan hal-hal kecil yang bisa disyukuri setiap hari,
kita mengubah fokus dari kekurangan menjadi kelimpahan.

BACA JUGA  Inspirasi Nilai Nilai Waisak untuk Pengembangan Diri

Dua latihan ini, meski sederhana, terbukti efektif untuk membantu emosi lebih stabil dan pikiran lebih sehat.

Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber

Berita Terkait

Hormon Kebahagiaan, Yang Mengatur Mood, Motivasi, dan Ikatan Sosial Kamu
Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super
Berita Pers – FILKOM UB Berkolaborasi dengan PKBM PPI Taiwan dan UNIMIG Taiwan, Tingkatkan Literasi AI bagi PMI dengan Dukungan KDEI Taipei
Emotional Climate dalam Organisasi, Cara Emosi Kolektif Mempengaruhi Kinerja Tim
Kecerdasan Emosional dalam Organisasi
Emotional Intelligence vs Emotional Fitness, Mana yang Lebih Penting untuk Kariermu?
Mengapa Emotional Fitness Menjadi Keterampilan Paling Dicari di Dunia Kerja Modern
Emotional Fitness Kunci Kesuksesan di Dunia Kerja Modern

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:15 WIB

Hormon Kebahagiaan, Yang Mengatur Mood, Motivasi, dan Ikatan Sosial Kamu

Senin, 5 Januari 2026 - 14:14 WIB

Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super

Rabu, 10 Desember 2025 - 15:15 WIB

Berita Pers – FILKOM UB Berkolaborasi dengan PKBM PPI Taiwan dan UNIMIG Taiwan, Tingkatkan Literasi AI bagi PMI dengan Dukungan KDEI Taipei

Senin, 8 Desember 2025 - 18:18 WIB

Emotional Climate dalam Organisasi, Cara Emosi Kolektif Mempengaruhi Kinerja Tim

Kamis, 4 Desember 2025 - 09:09 WIB

Emotional Intelligence vs Emotional Fitness, Mana yang Lebih Penting untuk Kariermu?

Berita Terbaru

Tubuh Manusia adalah Robot Super Biologis

Pendidikan

Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super

Senin, 5 Jan 2026 - 14:14 WIB