Apa Resikonya Jika Manusia Tidak Makan dan Minum ?
Lalu, apa yang terjadi jika seseorang tidak makan dan tidak minum?
Ini bukan hanya soal kehilangan tenaga.
Tapi perlahan, tubuh seperti kehilangan arah.
Organ-organ mulai bekerja tidak maksimal.
Kulit mengering, mata sayu, dan langkah menjadi lemas.
Dan yang paling menyedihkan adalah saat jiwa ikut kehilangan semangat.
Karena ternyata, tubuh yang lemah bisa menyeret pikiran dan perasaan ikut runtuh.
Tak jarang orang yang melewatkan makan karena terlalu sibuk mengejar pekerjaan,
atau lupa minum karena larut dalam stres.
Tapi jika kita berhenti sejenak dan mendengarkan tubuh, ia selalu memberi tanda.
Rasa lapar itu bukan gangguan.
Ia adalah sinyal cinta dari tubuh yang berkata, “Aku butuh dirimu.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Begitu pula dengan haus.
Itu adalah cara tubuh mengingatkan kita untuk kembali hadir,
memberi perhatian pada hal yang paling dasar, kebutuhan hidup.
Kita hidup di zaman yang serba cepat.
Kadang kita lebih ingat jadwal meeting daripada jadwal makan.
Kita hafal rencana kerja seminggu ke depan, tapi lupa kapan terakhir minum segelas air.
Dan ironisnya, kita baru menyadari pentingnya makan dan minum saat tubuh mulai protes,
saat kesehatan mulai goyah, atau saat kita dirawat di rumah sakit.
Namun tidak semua ketidaksadaran itu salah.
Bisa jadi, itu adalah bagian dari proses kita untuk kembali sadar.
Bahwa tubuh ini bukan mesin yang bisa dipaksa terus bergerak.
Ia adalah makhluk hidup yang butuh dirawat, didengarkan, dan diberi waktu untuk istirahat.
Dalam kehidupan spiritual, memberi makan pada tubuh adalah bentuk ibadah.
Ia menunjukkan bahwa kita menghargai kehidupan yang telah diberikan.
Bahkan dalam praktik puasa sekali pun,
momen tidak makan dan minum bukanlah penyiksaan,
melainkan latihan jiwa untuk menyadari nikmat yang biasa kita anggap remeh.
Makan dan minum pun bisa menjadi momen refleksi.
Di balik satu piring makanan, ada kerja keras petani, pedagang, alam, dan waktu.
Di balik seteguk air, ada kehidupan yang mengalir dalam tubuh kita.
Ketika kita menyadari itu semua, rasa syukur pun hadir dengan cara yang sederhana, namun begitu dalam.
Jadi, apakah kita harus makan setiap hari?
Jawabannya bukan hanya “harus”, tapi “layak”.
Tubuhmu layak untuk menerima yang terbaik.
Dan kamu pantas mendapatkan energi, kekuatan, dan kejernihan dari makanan dan minuman yang baik.
Kalau suatu hari kamu merasa lelah, kehilangan arah, atau tidak tahu harus mulai dari mana,
cobalah kembali ke hal paling dasar.
Tanya pada dirimu, “Sudahkah aku makan dengan baik hari ini?”
“Sudahkah aku cukup minum dan merawat tubuhku?”
Mungkin jawabannya sederhana, tapi bisa menjadi titik balik yang mengubah harimu atau bahkan hidupmu.
Sebab pada akhirnya, makan dan minum bukan soal perut.
Ia adalah cermin dari cara kita mencintai diri sendiri.
Dan saat kamu mulai memberi perhatian pada tubuhmu, dunia dalam dirimu akan ikut berubah.
Kamu akan merasa lebih kuat, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi apapun yang datang.
Jadi, mari kita ubah cara pandang kita.
Makan dan minum bukan hanya kebiasaan, tapi ritual cinta pada kehidupan.
Mulailah dengan satu suapan yang sadar, satu tegukan yang penuh makna, dan satu niat sederhana,
untuk hidup lebih sehat, lebih sadar, dan lebih bahagia.
Selamat menikmati hidup. Selamat mencintai dirimu, setiap hari.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2





















