Ironi dunia Pendidikan Agama, Kembali Perundungan terjadi di Pesantren, Pembelajaran pentingnya Pendidikan Karakter dan Beritegritas

Selasa, 5 Maret 2024 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kampanye Stop Perundungan/Bullying di Sekolah, Image by freepik

Ilustrasi Kampanye Stop Perundungan/Bullying di Sekolah, Image by freepik

Jika saat ini masih terjadi hal-hal negatif seperti perundungan/bullying di sekolah khususnya Sekolah agama / Pesantren bisa jadi disebabkan beberapa hal berikut ini :
Faktor Kurangnya Pemahaman:
Kurangnya pemahaman tentang definisi dan dampak perundungan.

Banyak orang, termasuk siswa, guru, dan bahkan orang tua, tidak memahami definisi perundungan secara jelas. Hal ini menyebabkan mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka merupakan perundungan dan tidak mengambil langkah yang tepat untuk menanganinya.

BACA JUGA  Self Improvement vs Self Development, Mana yang Kamu Butuhkan?

Kurangnya pemahaman tentang nilai-nilai agama.
Meskipun sekolah agama/pesantren bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama, masih ada siswa yang tidak memahami esensi nilai-nilai tersebut. Hal ini menyebabkan mereka tidak menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam interaksi dengan teman sebaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktor Lingkungan juga ikut berperan dalam membukanya potensi terjadinya kejadian perundungan /bullying, beberapa poin penyebabnya adalah sebagai berikut :
Lingkungan sekolah yang tidak kondusif.
Kurangnya pengawasan dari guru, aturan sekolah yang tidak tegas, dan budaya sekolah yang tidak mendukung anti-perundungan dapat menjadi faktor yang memungkinkan terjadinya perundungan.
Tekanan sosial dan budaya.
Tekanan dari teman sebaya untuk mengikuti tren dan norma yang tidak sehat dapat mendorong siswa untuk melakukan perundungan.
Pengalaman traumatis di masa lalu.
Siswa yang pernah menjadi korban perundungan atau mengalami trauma di masa lalu lebih berisiko untuk melakukan perundungan.

Berita Terkait

Hormon Kebahagiaan, Yang Mengatur Mood, Motivasi, dan Ikatan Sosial Kamu
Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super
Berita Pers – FILKOM UB Berkolaborasi dengan PKBM PPI Taiwan dan UNIMIG Taiwan, Tingkatkan Literasi AI bagi PMI dengan Dukungan KDEI Taipei
Emotional Intelligence vs Emotional Fitness, Mana yang Lebih Penting untuk Kariermu?
Regulasi Emosi vs Kecerdasan Emosional, Mana yang Lebih Menentukan Kesuksesan?
Regulasi Emosi, Keterampilan Dasar yang Banyak Diabaikan
Emotional Resilience, Keterampilan Hidup Terpenting di Era Digital
Self-Improvement vs Self-Development dalam Parenting

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:15 WIB

Hormon Kebahagiaan, Yang Mengatur Mood, Motivasi, dan Ikatan Sosial Kamu

Senin, 5 Januari 2026 - 14:14 WIB

Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super

Rabu, 10 Desember 2025 - 15:15 WIB

Berita Pers – FILKOM UB Berkolaborasi dengan PKBM PPI Taiwan dan UNIMIG Taiwan, Tingkatkan Literasi AI bagi PMI dengan Dukungan KDEI Taipei

Kamis, 4 Desember 2025 - 09:09 WIB

Emotional Intelligence vs Emotional Fitness, Mana yang Lebih Penting untuk Kariermu?

Kamis, 27 November 2025 - 17:17 WIB

Regulasi Emosi vs Kecerdasan Emosional, Mana yang Lebih Menentukan Kesuksesan?

Berita Terbaru

Tubuh Manusia adalah Robot Super Biologis

Pendidikan

Mengenal Tubuh Manusia, Robot Biologis dengan Kecerdasan Super

Senin, 5 Jan 2026 - 14:14 WIB