Fakta Yang Menunjukkan Emotional Fitness Makin Dibutuhkan
Banyak sekali situasi di tempat kerja yang berpotensi menimbulkan konflik,
hal ini wajar,
karena semuanya akan berjuang untuk meloloskan kepentingannya.
Dan konflik di tempat kerja lebih banyak dipicu oleh Emosi, bukan lagi tentang lack of Kompetensi,
Sebagian besar konflik kerja bukan terjadi karena kurangnya skill, atau kurangnya pengetahuan.
Tapi lebih sering karena salah tanggap, tersinggung oleh feedback,
respon emosional spontan, asumsi negatif,
ego kompetitif, atau komunikasi yang tidak diatur dengan baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karyawan yang punya emotional fitness tinggi itu,
dia tidak mudah reaktif, mampu mengklarifikasi dengan tenang,
mampu menerima kritik dengan objektif, mampu berdiskusi tanpa drama emosional.
Ini membuat atmosfer kerja lebih sehat dan kolaboratif.
Menariknya adalah, Emotional Fitness ini Berhubungan Langsung dengan Faktor Kepemimpinan,
Setiap perusahaan butuh pemimpin, Tapi mereka tidak mencari pemimpin yang hanya pintar dan agresif.
Mereka mencari pemimpin yang bisa,
berpikir jernih dalam krisis, menenangkan tim di tengah tekanan,
membuat keputusan tanpa terbawa emosi, menerima input dengan terbuka,
dan mampu mengakui kesalahan.
Itu semua bukan soal IQ.
Itu adalah fungsi dari emotional fitness.
Itulah kenapa banyak HR sekarang menilai emosional kandidat lewat,
situational interview, behavior-based questions,
stress interview, role play, working simulation.
Karena mereka ingin tahu,
“Kalau orang ini ditekan, apa yang terjadi?”
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





















