Sedangkan pendapat dari beberapa yang kurang setuju dengan pilihan jika pemerintah menerapkan Libur Penuh/Lebih Panjang pada saat bulan ramadan 2025 kali ini,
Menurut mereka yang kurang setuju, adanya libur panjang atau libur penuh pada saat ramadan kali ini,
diantaranya menyebabkan adanya kesempatan atau Potensi Learning Loss,
karena ketika sekolah Libur yang terlalu panjang,
dikhawatirkan dapat menyebabkan learning loss,
yaitu hilangnya pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya.
Ketika kegiatan difokuskan di lingkungan luar sekolah,
mereka merasa bisa terjadi kondisi kurangnya pengawasan,
karena dengan Libur yang terlalu panjang berpotensi membuat siswa kurang terkontrol,
dan melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktor lain yang menjadi kekhawatiran mereka yang kurang setuju menerapkan libur panjang,
karena adanya kondisi ketidakmerataan Akses Pendidikan,
Bagi siswa yang kurang mampu,
libur panjang bisa memperburuk kesenjangan pendidikan,
karena mereka mungkin tidak mendapatkan bimbingan belajar yang memadai di rumah.
Selain itu juga, berkurangnya kegiatan belajar mengajar di sekolah,
bisa memberikan dampak pada Gaji Guru Honorer/Swasta,
sudah pasti jika Libur yang terlalu panjang berpotensi mengurangi jam mengajar,
dan berdampak pada pendapatan guru honorer atau di sekolah swasta.
Nah, dengan menimbang dari dua kondisi pro dan kontra di atas,
ruanginspirasimu mencoba membagikan kemungkinan solusi dan Rekomendasi yang bisa dicoba untuk diterapkan bersama,
Pertama adalah melakukan proses pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan di Bulan Ramadan,
yaitu dengan mengarahkan sekolah untuk dapat merancang kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif,
relevan dengan nilai-nilai Ramadan, dan tidak memberatkan siswa yang berpuasa.
Contohnya, kegiatan literasi Alquran, diskusi keagamaan, kegiatan sosial,
atau proyek-proyek yang berkaitan dengan Ramadan.
Yang keduanya, tentunya menguatkan Peran Orang Tua,
karena Orang tua perlu melibatkan diri secara aktif dalam mendampingi kegiatan belajar anak di rumah,
baik selama periode pembelajaran mandiri maupun saat libur.
Dengan memanfaatan Teknologi, untuk mendukung pembelajaran jarak jauh,
atau memberikan materi pembelajaran tambahan selama libur.
Selain itu bisa juga memberikan pilihan dengan adanya kegiatan alternatif Selama Libur,
Jika ada libur yang cukup panjang, sekolah dapat mengadakan kegiatan alternatif yang bermanfaat,
seperti pelatihan soft skills, kegiatan volunteering, atau workshop yang relevan dengan minat siswa.
Yang terakhir tentunya harus selalu melakukan Evaluasi dan Monitoring,
dalam hal ini Pemerintah dan pihak sekolah perlu melakukan evaluasi dan monitoring,
terhadap pelaksanaan pembelajaran di bulan Ramadan untuk memastikan efektivitasnya.
Dari diskusi di atas, kita bisa mengambil kesimpulannya,
Bahwa wqacana libur sekolah di bulan Ramadan 2025 memang memiliki dua sisi mata uang.
Penting bagi kita untuk melihatnya secara komprehensif,
dan mencari solusi terbaik yang dapat mengakomodasi kebutuhan ibadah dan pendidikan.
Dengan perencanaan yang matang, kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan pemerintah,
serta pemanfaatan teknologi yang tepat,
kita dapat memastikan bahwa Ramadan 2025 tetap menjadi bulan yang berkah,
dan produktif bagi pendidikan anak-anak Indonesia.
Sumber Berita : Diolah Dari Berbagai Sumber
Halaman : 1 2





















